Oleh: Hasto | 3 Januari 2008

Sebuah Mimpi yang Membuat Syaikh Al-Albany Berlinang Air Mata

Seorang wanita menelepon Syaikh Al-Albany untuk menceritakan sebuah mimpi mengenai Al-Imam Ahlul Hadist Asy-Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albany rahimahullah, telah diceritakan seperti berikut:

Seorang wanita dari negara
Algeria menelepon Syaikh Al-Albany dan berkata: “Ya Syaikh! Aku mempunyai berita!”  

Syaikh menjawab: “Saya harapkan (semoga) Allah memberkahimu dengan berita baik.” 

Wanita itu berkata: “Seorang akhwat telah bermimpi dan saya akan menceritakannya kepadamu ya Syaikh.” 

Syaikh menjawab: “Saya harap dia melihat (sesuatu) yang baik.” 

Wanita itu melanjutkan: “Ya Syaikh! Adakah ini suatu penjelasan bahwa seseorang datang dan menceritakan mimpinya kepada Anda dan Anda berkata: “Saya harap engkau melihat (sesuatu) yang baik dan (berharap) itu baik”? Apakah ini penjelasan dari sunnah?”  

Syaikh menjawab: “Tidak. Ini bukan penjelasan (sunnah), bagaimanapun, tidak ada salahnya menggunakan istilah ini untuk sesekali.” 

Wanita itu berkata: “Barakallahu fiik.” 

Syaikh menjawab: “Wafikum barakallahu. ” 

Wanita itu berkata lagi: “Akhwat ini melihat dirinya (dalam mimpinya) berada di atas sebuah balkon yang di bawahnya terlihat jalan setapak. Dan di jalan setapak ini dia melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan gambaran beliau (yang telah dikenal ciri-ciri fisik Rasulullah). Kemudian, dia melihatku berdiri di depan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan dia melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tersenyum kepadaku, dan aku pun membalas senyum beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.”  

Kemudian aku memanggil akhwat itu, dan berkata kepadanya: “Turun. Turunlah mendekat ke kami.” 

Ketika dia turun, dia berkata kepadaku: “Siapa yang kamu lihat itu?” 

Aku menjawab: “Lihatlah siapa yang melihatku.” Dan dia melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tersenyum, dan berjalan menyusuri jalan setapak itu.  

Kami (aku dan akhwat itu) kemudian berjalan di sepanjang jalan setapak itu dan pada saat kami berjalan kami melihat seorang Syaikh di jalan (yang sama), lalu kami memberikan salam kepada Syaikh itu, kami berkata: “Assalamu ‘alaikum.”  

Syaikh itu pun membalas salam kami: “Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wabarakatuh. ” 

Kemudian, Syaikh itu bertanya kepada kami: “Adakah kalian melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” 

Kami menjawab: “Ya, kami (baru saja) melihat beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.” 

Akhwat tadi bertanya kepadaku: “Siapa Syaikh ini?” 

Saya menjawab: “Beliau ini adalah Syaikh Al-Albany..” (mimpi pun berakhir). 

Wanita yang menelepon Syaikh tadi, kemudian berkata: “Aku memohon kepada Allah untuk menjadikan berita bagus ini untukmu ya Syaikh, dan aku ingin memberitahukannya kepadamu ya Syaikh, dengan penuh harapan bahwa ini adalah berita bagus, insya Allah, bahwa Anda berjalan di atas sunnah, insya Allahu ta’ala. ( Setelah beberapa saat terdiam, wanita tadi berkata) Lalu, apa pendapat Anda ya Syaikh?” 

(Telepon pun ditutup) Sampai di sini, Syaikh tidak mengatakan sesuatu, agaknya, air mata mulai berlinang membasahi pipi beliau dan Syaikh pun menangis. (Setelah beberapa saat ) Beliau kemudian meminta kepada hadirin yang berkumpul di situ untuk meninggalkan beliau. (Syaikh Al-Albany, semoga Allah merahmati beliau-pent)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: