Akhir bulan januari tahun 2007 saya datang ke pulau lombok mengunjungi kakak – kakak saya yang berada di lombok.pengalam saya berawal pada salah satu kebun milik kakak saya yang pertama yang letaknya di antara sawah – sawah,disanalah kakakku membangun semacam taman yang asri dimana air masih alami,saking suasana dan keadaanya yang asri sempat pemerintah setempat memanggil kakak saya untuk bekerjasama dalam bidang kepariwisataan dimana kebun tersebut akan di jadikan tempat singgah kepada para pendaki sebelum mendaki ke gunung rinjani dan tempat penginapan,hal ini ditolak kakak saya karena berbagai alasan yaitu,pertama dia mendirikan tempat ini adalah untuk tempat silaturahmi keluarga besar,disamping itu tempat ini untuk mencari ketenangan dan sekaligus menginap para anggota keluarga jika berkunjung kesini karena ada beberapa bungalow yang sudah di bangun disini,jika anda datang ke tempat ini anda akan di perdengarkan suara gemericiknya air yang mengalir dari kolam pancing ke kolam pancing satunya.kedua, kakak saya takut tempat ini dijadikan sarana kemaksiatan oleh para turis wisatawan asing/ lokal yang singgah disini dan kabarnya tempat ini pernah di tawar sekitar 200 juta oleh turis dari swedia.dan yang ketiga pemerintah tidak memberikan alokasi dana secuilpun untuk pembangunan kebun asri ini.selama saya menyinggahi tempat tersebut ada perbincangan saya dengan kakak ipar saya dan dari hasil perbincangan tersebut tersembul beberapa hikmah yang dapat saya petik dari beliau antara lain beliau mengatakan “bahwa tempat ini tidak akan saya bangun semewah mungkin,karena saya takut akan menimbulkan jarak yang jauh antara saya dan keluarga yang pada akhirnya mereka enggan kesini padahal tempat ini saya bangun untuk sarana silaturahmi keluarga”. Dan beberapa hikmah dan pelajaran yang lain yang saya dapatkan selama berkunjung kesana.



